Sinopsis Novel: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye

    Author: Ghozali Saputra Genre: »
    Rating


    Namanya Tania. Ia bersama adik tersayang, Dede, mengamen di bus-bus kota sepulang sekolah. Ayah mereka sudah tiada. Hanya Ibulah yang merawat mereka selam ini. Mereka berdua masih berstatus pelajar SD. Sekedar untuk biaya makan pun mereka kesusahan. Ibu mereka hanyalah pegawai laundry mahasiswa. Alhasil, mereka tak keberatan untuk membantu Ibu mereka mencari uang.  Mungkin hanya empat lima perak yang mereka dapat, tetapi itu sangat berharga guna membantu kehidupan mereka. 

    Hari sudah malam, Tania dan Dede masih berada di dalam bus. Suara nyaring khas anak kecil terdengar jelas di telinga para penumpang bus itu. Tania berjalan mendekati satu persatu penumpang untuk menariki uang, sedang Dede hanya mengintil di belakangnya. Tak banyak uang yang mereka dapat, karena sebagian  besar penumpang sudah terlelap tidur. Malah satu paku payung  di lorong bus itu menancap tepat di telapak kaki Tania. Tania mengaduh kesakitan lalu tiba-tiba ada seorang pria berjalan menghampiri Tania dan Dede. Pria itu mencoba menolong Tania. Dikeluarkannya saputangan miliknya dan diikatkan di kaki Tania. Dialah sang “malaikat” yang kelak akan mewarnai dunia keluarga mereka. Terutama Tania.

    Memasuki SMP Tania dan Dede harus mendapatkan kabar buruk. Ibu mereka meninggal dunia. Padahal Tania mendapatkan beasiswa ke Singapura untuk melanjutkan studi SMP-nya. Malang sekali, orang tua satu-satunya Tania tak sempat mendengar kabar membanggakan itu. 


    Tania masih anak remaja yang labil. Ia belum sepenuhnya mengetahui perasaan dalam hatinya. Hanya sebatas perasaan kagum dan terpesona kepada malaikat itu. Ia merasa jauh ketika harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa bertemu dengan malaikat itu karena terhalang studinya di Singapura. Namun, pendidikan adalah nomor satu. Jadilah Tania berangkat ke Singapura. Sementara Dede masih menempuh sekolah dasarnya di Indonesia. Semua biaya akan ditanggung oleh malaikat itu.

    Tania selalu memendam perasaan yang ada di dalam hatinya. Ia belum sepenuhnya mengetahui perasaan itu. Hanya sebatas perasaan kagum dan terpesona saja. Ia merasa jauh ketika harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa bertemu dengan malaikat itu karena terhalang studinya di Singapura. Namun, pendidikan adalah nomor satu. Jadilah Tania berangkat ke Singapura. Sementara Dede masih melanjutkan sekolah dasarnya di Indonesia. Semua biaya akan ditanggung oleh malaikat itu.

                Tania memang selalu memendam perasaanya. Ia belum paham tentang perasaan yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Tetapi, setelah malam sweet seventeen yang indah itu, Tania makin sadar bahwa babak baru hubungan dia dengan malaikat itu akan segera dimulai. Ketika Tania di Singapura chatting-lah salah satu cara paling efektif untuk sekedar mengetahui kabarnya. Atau paling tidak Tania “melaporkan” hasil ulangannya setiap kali ada quiz. Itulah saat-saat yang paling indah di Singapura bagi Tania.
                Namun sebaliknya, ketika malaikat itu membahas Kak Ratna; pacar sekaligus tunangannya, tak butuh waktu lama Tania langsung kehilangan mood boosternya. Begitu pun setelah Tania lulus SMP dan melanjutkan SMA serta kuliah di Singapura, ia tetap melakoni kebiasaan itu. Chatting dengannya adalah kabar yang sangat baik, tetapi membahas Kak Ratna adalah bencana! Kadang Tania juga chatting dengan Dede, dan topik pembahasannya adalah malaikat itu juga. Karena Tania banyak bertanya soal dia.

                Memang Tania selalu menyembunyikan perasaan itu. Tania pikir tak ada yang tau mengenai perasaannya. Tetapi, Dede, adik semata wayangnya bisa melihat dengan jelas tingkah laku kakaknya tak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar menyukai malaikat mereka. Sampai pada suatu hari, Dede memberi kabar buruk untuk kakaknya. Malaikat itu akan menikah dengan Kak Ratna! Foto pre-wed sudah selesai. Undangan sudah dbuat. Tinggal menghitung hari, malaikat itu resmi menjadi milik Kak Ratna seorang.

                Tania benar-benar terpuruk oleh kesedihan yang sangat mendalam. Sampai ia melanggar janjinya kepada almarhumah Ibunya untuk tidak menangis demi apapun. Namun, kali ini ia melanggarnya. Tania menangis demi malaikat itu.

                Tania sudah memutuskan untuk tidak akan pulang melihat pernikahannya. Ia ditelpon, dibujuk, sampai dikunjungi Kak Ratna pun ia tetap teguh pada pendirian, pantang pulang! Kata Kak Ratna, malaikat itu berubah setelah mendengar Tania tak bisa pulang melihat pernikahan dirinya. Tania hanya bisa menghitung mundur menit demi menit dengan luka yang semakin menganga. Luka akibat perasaan yang ia pendam bertahun-tahun lamnya. Perasaan mencintai dan ingin dicintai.

                Pernikahan sudah selesai. Hidup harus terus berlanjut. Tania beraktivitas seperti biasanya. Ia mencoba menerima semuanya dengan hati yang lapang. Namun, usaha itu hanyalah kesiasian belaka. Terakhir Kak Ratna mengirim e-mail kepadanya. E-mail yang ganjil. E-mail yang berisi kesehidan Kak Ratna yang teramat sangat. Mengenai tingkah laku suaminya yang berubah drastis. Katanya, malaikat itu sudah hampir enam bulan jarang berbincang dengnnya. Dia lebih banyak diam. Lebih banyak menyendiri. Belum lagi kesibukkan kerjanya. Mereka hanya saling menegur pada pagi hari. Saat dia pulang. Dan peluk cium sebelum tidur. Sisanya kosong. Ternyata ia tak mencintai Kak Ratna!

                Kabar yang sungguh mengagetkan itu selam berhari-hari Tania alami. Hampir setiap harinya Kak Ratna mengirimi e-mail-e-mail yang sangat mengharu biru. Namun, hari ini Tania sudah pulang ke kampung halaman. Sekarang ia sedang bercakap-cakap dengan Dede. Bukan percakapan yang asyik untuk mereka bahas, melainkan percakapan yang menguak teka-teki dibalik kejadian demi kejadian yang telah Tania alami dari dulu hingga saat ini.

                Dede secara tak sengaja menemukan secret document di laptop milik malaikat itu. Sebuah file yang berjudul ganjil: Cinta dari Pohon Linden. File itu adalah sebuah novel yang tak akan berakhir. Novel yang mengisahkan seorang pria yang cintanya bersemi di bawah pohon linden. Pohon besar yang tumbuh di samping rumah kardus milik gadis kecil berkepang dua. Sekarang Tania berdiri di bawah pohon itu. Menemukan sang “malaikat” yang sedari tadi sudah terduduk mangu. Satu daun linden jatuh tertiup angin dan mengenai pundaknya. Tania sudah saatnya angkat bicara. Tak perlu lagi ada yang disembunyikan. Semuanya sudah jelas artinya. Tania menangis, berteriak, membentak, pun tak ada gunanya. Malaikat itu hanya terdiam seribu bahasa.

                Tania sejak dulu menyembunyikan perasaannya bukan berarti mengabaikan, tetapi ia merasa tak pantas mencintai malaikat keluarganya sendiri. Bahkan perasaan itu tumbuh sejak ia di kepang dua. Kemudian ia rawat dan tumbuhlah cinta itu menjadi semakin besar dan semakin besar. Sayangnya, semua telah berakhir. Cinta itu harus pupus lantaran kelakuan malaikat itu sendiri.

                Apakah salah mencintai gadis berumur dua belas tahun? Bukankah ia juga akan tumbuh menjadi wanita dewasa kelak? Ah, sudahlah. Memang cinta tak harus memiliki. Biarlah ia luruh seperti sehelai daun, daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggut dari tangkai pohonnya.