Namanya Tania. Ia bersama adik
tersayang, Dede, mengamen di bus-bus kota sepulang sekolah. Ayah mereka sudah
tiada. Hanya Ibulah yang merawat mereka selam ini. Mereka berdua masih
berstatus pelajar SD. Sekedar untuk biaya makan pun mereka kesusahan. Ibu
mereka hanyalah pegawai laundry mahasiswa. Alhasil, mereka tak keberatan untuk
membantu Ibu mereka mencari uang. Mungkin
hanya empat lima perak yang mereka dapat, tetapi itu sangat berharga guna
membantu kehidupan mereka.
Hari sudah malam, Tania dan Dede
masih berada di dalam bus. Suara nyaring khas anak kecil terdengar jelas di
telinga para penumpang bus itu. Tania berjalan mendekati satu persatu penumpang
untuk menariki uang, sedang Dede hanya mengintil di belakangnya. Tak banyak uang
yang mereka dapat, karena sebagian besar
penumpang sudah terlelap tidur. Malah satu paku payung di lorong bus itu menancap tepat di telapak
kaki Tania. Tania mengaduh kesakitan lalu tiba-tiba ada seorang pria berjalan
menghampiri Tania dan Dede. Pria itu mencoba menolong Tania. Dikeluarkannya
saputangan miliknya dan diikatkan di kaki Tania. Dialah sang “malaikat” yang
kelak akan mewarnai dunia keluarga mereka. Terutama Tania.
Memasuki SMP Tania dan Dede harus
mendapatkan kabar buruk. Ibu mereka meninggal dunia. Padahal Tania mendapatkan
beasiswa ke Singapura untuk melanjutkan studi SMP-nya. Malang sekali, orang tua
satu-satunya Tania tak sempat mendengar kabar membanggakan itu.
Tania masih anak remaja yang labil.
Ia belum sepenuhnya mengetahui perasaan dalam hatinya. Hanya sebatas perasaan
kagum dan terpesona kepada malaikat itu. Ia merasa jauh ketika harus menerima
kenyataan bahwa ia tidak akan bisa bertemu dengan malaikat itu karena terhalang
studinya di Singapura. Namun, pendidikan adalah nomor satu. Jadilah Tania
berangkat ke Singapura. Sementara Dede masih menempuh sekolah dasarnya di
Indonesia. Semua biaya akan ditanggung oleh malaikat itu.
Tania selalu memendam perasaan yang ada di dalam
hatinya. Ia belum sepenuhnya mengetahui perasaan itu. Hanya sebatas perasaan
kagum dan terpesona saja. Ia merasa jauh ketika harus menerima kenyataan bahwa
ia tidak akan bisa bertemu dengan malaikat itu karena terhalang studinya di
Singapura. Namun, pendidikan adalah nomor satu. Jadilah Tania berangkat ke
Singapura. Sementara Dede masih melanjutkan sekolah dasarnya di Indonesia. Semua
biaya akan ditanggung oleh malaikat itu.
Tania
memang selalu memendam perasaanya. Ia belum paham tentang perasaan yang sedang
bergejolak di dalam hatinya. Tetapi, setelah malam sweet seventeen yang indah itu, Tania makin sadar bahwa babak baru
hubungan dia dengan malaikat itu akan segera dimulai. Ketika Tania di Singapura
chatting-lah salah satu cara paling
efektif untuk sekedar mengetahui kabarnya. Atau paling tidak Tania “melaporkan”
hasil ulangannya setiap kali ada quiz. Itulah
saat-saat yang paling indah di Singapura bagi Tania.
Namun
sebaliknya, ketika malaikat itu membahas Kak Ratna; pacar sekaligus
tunangannya, tak butuh waktu lama Tania langsung kehilangan mood boosternya. Begitu
pun setelah Tania lulus SMP dan melanjutkan SMA serta kuliah di Singapura, ia
tetap melakoni kebiasaan itu. Chatting dengannya
adalah kabar yang sangat baik, tetapi membahas Kak Ratna adalah bencana! Kadang
Tania juga chatting dengan Dede, dan
topik pembahasannya adalah malaikat itu juga. Karena Tania banyak bertanya soal
dia.
Memang
Tania selalu menyembunyikan perasaan itu. Tania pikir tak ada yang tau mengenai
perasaannya. Tetapi, Dede, adik semata wayangnya bisa melihat dengan jelas
tingkah laku kakaknya tak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar menyukai
malaikat mereka. Sampai pada suatu hari, Dede memberi kabar buruk untuk
kakaknya. Malaikat itu akan menikah dengan Kak Ratna! Foto pre-wed sudah selesai. Undangan sudah dbuat. Tinggal menghitung
hari, malaikat itu resmi menjadi milik Kak Ratna seorang.
Tania
benar-benar terpuruk oleh kesedihan yang sangat mendalam. Sampai ia melanggar
janjinya kepada almarhumah Ibunya untuk tidak menangis demi apapun. Namun, kali
ini ia melanggarnya. Tania menangis demi malaikat itu.
Tania
sudah memutuskan untuk tidak akan pulang melihat pernikahannya. Ia ditelpon,
dibujuk, sampai dikunjungi Kak Ratna pun ia tetap teguh pada pendirian, pantang
pulang! Kata Kak Ratna, malaikat itu berubah setelah mendengar Tania tak bisa
pulang melihat pernikahan dirinya. Tania hanya bisa menghitung mundur menit
demi menit dengan luka yang semakin menganga. Luka akibat perasaan yang ia
pendam bertahun-tahun lamnya. Perasaan mencintai dan ingin dicintai.
Pernikahan
sudah selesai. Hidup harus terus berlanjut. Tania beraktivitas seperti
biasanya. Ia mencoba menerima semuanya dengan hati yang lapang. Namun, usaha
itu hanyalah kesiasian belaka. Terakhir Kak Ratna mengirim e-mail kepadanya.
E-mail yang ganjil. E-mail yang berisi kesehidan Kak Ratna yang teramat sangat.
Mengenai tingkah laku suaminya yang berubah drastis. Katanya, malaikat itu
sudah hampir enam bulan jarang berbincang dengnnya. Dia lebih banyak diam. Lebih
banyak menyendiri. Belum lagi kesibukkan kerjanya. Mereka hanya saling menegur
pada pagi hari. Saat dia pulang. Dan peluk cium sebelum tidur. Sisanya kosong. Ternyata
ia tak mencintai Kak Ratna!
Kabar
yang sungguh mengagetkan itu selam berhari-hari Tania alami. Hampir setiap
harinya Kak Ratna mengirimi e-mail-e-mail yang sangat mengharu biru. Namun,
hari ini Tania sudah pulang ke kampung halaman. Sekarang ia sedang
bercakap-cakap dengan Dede. Bukan percakapan yang asyik untuk mereka bahas,
melainkan percakapan yang menguak teka-teki dibalik kejadian demi kejadian yang
telah Tania alami dari dulu hingga saat ini.
Dede
secara tak sengaja menemukan secret document di laptop milik malaikat itu. Sebuah
file yang berjudul ganjil: Cinta dari Pohon Linden. File itu adalah sebuah
novel yang tak akan berakhir. Novel yang mengisahkan seorang pria yang cintanya
bersemi di bawah pohon linden. Pohon besar yang tumbuh di samping rumah kardus
milik gadis kecil berkepang dua. Sekarang Tania berdiri di bawah pohon itu. Menemukan
sang “malaikat” yang sedari tadi sudah terduduk mangu. Satu daun linden jatuh
tertiup angin dan mengenai pundaknya. Tania sudah saatnya angkat bicara. Tak perlu
lagi ada yang disembunyikan. Semuanya sudah jelas artinya. Tania menangis,
berteriak, membentak, pun tak ada gunanya. Malaikat itu hanya terdiam seribu
bahasa.
Tania
sejak dulu menyembunyikan perasaannya bukan berarti mengabaikan, tetapi ia
merasa tak pantas mencintai malaikat keluarganya sendiri. Bahkan perasaan itu
tumbuh sejak ia di kepang dua. Kemudian ia rawat dan tumbuhlah cinta itu
menjadi semakin besar dan semakin besar. Sayangnya, semua telah berakhir. Cinta
itu harus pupus lantaran kelakuan malaikat itu sendiri.
Apakah
salah mencintai gadis berumur dua belas tahun? Bukankah ia juga akan tumbuh
menjadi wanita dewasa kelak? Ah, sudahlah. Memang cinta tak harus memiliki. Biarlah
ia luruh seperti sehelai daun, daun yang tak pernah membenci angin meski harus
terenggut dari tangkai pohonnya.






Posting Komentar