Apa Kabar?

    Sial!
    Pagi ini aku ada ESQ Mahasiswa Baru di kampus. Berangkat pukul 5.45 dari Kost sambil mengayuhi si Lala dengan hati biasa aja. Sepagi itu perut belum terisi apapun.milkysmile Mampir di warung kaki lima pinggir jalan kaliurang kayaknya enak. Lantas tanpa pikir panjang aku pun mampir di salah satu warung.

    Seorang ibu paruh baya menyapaku dengan ramah. "monggo...", katanya. Aku pun duduk di salah satu kursi plastik yang telah beliau sediakan dan memesan makan. Hanya menunggu beberapa menit sudah siap kusantap satu porsi nasi kuning, mie goreng, kering tempe, dan mendoan dua biji. Rasanya bisa dibilang cukuplah untuk ukuran mahasiswa yang tiap hari selalu kangen masakan emaknya. hahahamilkysmile

    Selesai makan ada air mineral di samping gerobak si Ibu. Karena pagi itu cuman aku yang makan di tempat, si Ibu menuangkan satu gelas kecil untukku. Aku teguk beberapa kali, tetapi rasanya sedikit aneh. Terpaksa aku menyisakkannya. Mubazir yaa. (Jangan Ditiru).

    Berapa Bu?, aku tanya. 4000 Mas..., jawab si Ibu. Oh iya? Demi apa pagi ini aku bisa sarapan dengan kenyang cuman bayar 4000?? Ah... baiknyaa si Ibu ini... Semoga cepet laris yaa Bu dagangannya. PhotobucketMakasih banyak.

    Malam pun tiba....

    Hhhhh.... rasanya pengen misuh aja malam ini.Photobucket
    Masak iya, nasi putih, telor, tempe, sambel, es teh, 10000!! Yang bener aja Bang?! Sumpah ni ya, kalau dibandingkan sama sarapanku tadi pagi jauuuhhh....kek bumi & langit men! Udah nyiapinnya lama, tehnya rasanya agak basi, tempenya juga gak karuan, duuuhhhh...cukup! Tau gitu mendingan tadi makan di GEPREK aja! 12rb dapet ayam campur sambel, es teh, plus nasi bisa nambah pula!! Hhhh....*menghela napas panjang*milkysmile Lah, mesti akhirnya cuman bisa bilang yasudahlah,, pengalaman...mau gimana lagi? *tetep nggondok*

    Oke satu pengalaman baik & buruk buat hari ini. Hikmahnya apa hayoook?? Hmm...Sesuatu kemudahan pasti diikuti dengan kesusahan. Bisa istilah yang lain kebahagiaan pasti disertai dengan kesedihan. Hari ini paket komplit!Photobucket

    Rabu, 03 September 2014

    ***
    Bubur Ayam Koclak Khas Cianjur

    Ini nih sarapanku pagi ini. Bubur Ayam Koclak Cianjur! Aku nggak tau makna kata koclak itu apa. Setauku bubur ayam satu ini tuh rasanya 'menggelora memecah langit angkasa raya'! *apa sih* Uenaaaakk pake banget! milkysmileHaha lebay yak? Eh tapi nggak bohong lho. Beneran, cari aja si mas-mas tukang bubur ini yang biasa 'menampakkan' dirinya bersama gerobak plus bubur ayamnnya tiap pagi di sekitar jalan kaliurang km 4,5.

    PhotobucketDengan patokan harga 6000 kalian sudah bisa menyantap bubur ayam khas Cianjur ini tanpa harus bersusah-payah pergi Cianjur beneran. Cukup di Jakal aja ada. Cobain yak, gerobaknya warna kuning di pinggir jalan. Dijamin ketagihan deh, nggak kalah kok sama bubur ayam jakarta. Sama-sama uenaaak!*nomnomnom*Photobucket

    Kamis, 04 September 2014

    ***

    Kupu - Kupu Mimpi
    Hari ini aku mengikuti acara "Simamoru" di kampus. Simamoru itu acara untuk para mahasiswa baru muslim agar saling kenal-mengenal lebih dari mahasiswa lainnya. Acara ini mungkin cuman ada di fakultasku aja. Acara yang dimulai pukul 07.00 selesai pukul 15.00 ini berisi macam-macam agenda yang cukup seru! Salah satunya Upacara Kupu - Kupu Mimpi.milkysmile

    Wah, agenda ini memang yang paling menarik menurutku. Sebenarnya, bukan kupu-kupu mimpi sih, tapi lebih tepatnya buah-buahan mimpi. Karena objek yang kita gunakan berupa kertas yang dibentuk buah-buahan.

    Jadi begini, dulu ada seorang mahasiswi yang bernama mbak Rahma.Photobucket Ia menuliskan mimpi-mimpinya di banyak kertas yang dibentuk kupu-kupu. Mimpinya bermacam-macam. Mungkin salah satunya adalah ingin pergi keluar negeri; Korea Selatan. Tetapi, banyak dari teman-temannya yang menertawai mbak Rahma. Mbak Rahma tak menggubrisnya.Photobucket Ia masih saja menuliskan mimpi-mimpinya di kupu-kupu itu. Ia percaya bahwa suatu saat nanti mimpinya bakalan terwujud.

    Dan surprisingly, mimpi-mimpi mbak Rahma satu persatu terwujud!milkysmile Korea selatan pun berhasil ia jamah! Lalu mimpi-mimpinya yang lain juga menyusul. Tentu mbak Rahma sangat bahagia dan selalu bersyukur, akhirnya ia bisa membuktikan pada dirinya sendiri dan teman-temannya (yang menertawakan) bahwa apa yang ia lakukan bukanlah lelucon.milkysmile

    Melalui kisah mbak Rahma tadi, kita bisa memetik hikmah di dalamnya, kawan. Yaitu, the miracle of believing the dreams! milkysmileOrang yang biasa menuliskan mimpi-mimpinya adalah ia yang mampu mewujudkan mimpi-mimpinya. So, tunggu apa lagi kawan, tulis segera mimpi-mimpimu! Dan lihatlah 5,8,10 tahun yang akan datang kau akan menjadi seperti yang kau impikan!Photobucket

    Jumat, 05 September 2014

    ***
    Jalan-jalan ke FKY

    Kemarin aku sama dua temanku tanpa rencana alias dadakan pergi ke Festival Kesenian Yogyakarta.milkysmile Sebut aja mereka Koni dan Din. Mereka ini tak lain tak bukan adalah teman satu jurusanku. Selesai acara ambil-mengambil buku di kampus, kami pun langsung tancap gas meluncur ke FKY dengan Trans Jogja atau orang-orang biasa menyebutnya TJ. Kami tak butuh waktu lama untuk “mendarat” di terminal TJ yang ternyata ada di depan gedung rektorat kampus kami.

    Memang Indonesia yee, apa-apa mesti kudu nunggu lama. Walhasil, setelah setengah jam menunggu, nongol juga tuh TJ.milkysmile Harusnya bukan TJ yang ini yang kami tumpangi, tapi TJ berikutnya. Tak apalah, daripada nunggu lagi mending langsung naik yang ini.  Toh konsekuensinya cuman transit di terminal berikutnya. TJ pun bergerak dan kami berangkat.

    Ternyata.... setelah kami turun di terminal Taman Pintar yang disarankan mas-mas penjaga terminal depan rektorat tadi. Saran doi tak berujung manis sama sekali! Kami harus berjalan lagi sekitar satu kilometer lebih untuk sampai ke lokasi. Naasnya hari itu benar-benar panas. Jam-jam keritis perut sudah gedomprengan tak karu-karuan.milkysmile Kami terus berjalan menelusuri jalan tersebut menuju FKY.

    Hhhh....lamaaa setelah berjalan sambil ngos-ngosan ditambah bonus kulit item langsat, kami pun melihat pintu gerbang besar bertuliskan “FKY”. Senyum lega tersungging manis dari bibir kami, spontaniously.Photobucket
    Kami mulai memasuki area FKY. SEDIH! Ternyata cuman segelintir penjual yang membuka lapaknya pada siang hari, yang lainnya tutup. Kami sempat kecewa, tetepi setelah kami menemukan jalan menuju suatu tempat bersejarah di sekitar sana rasa kecewa itu pun seketika sirna. Mungkin bangunan itu dulunya adalah benteng. Berdiri kokoh tembok bebatuan yang super keras dan besar. Warna coklat yang mendominasi tempat itu jadi terlihat seperti bangunan-bangunan kuno di Mesir. Kami menuju salah satu balkon yang kami kira bakalan melihat pemandangan yang sangat menajubkan. Dan ternyata apa? Cuman genteng kumuh milik para penduduk sekitar. Hhhh... sayang.

    Kami pun masih lanjut menelusuri tempat itu. Berjalan menuruni tangga. Kami coba mengikuti petunjuk arah yang sudah disediakan. Ke arah kanan; Taman Sari. Kami mengikutinya. Menyusuri terowongan bercat putih yang sudah luntur. Terowongan yang cukup panjang dan dingin. Terlihat satu pengemis di ujung terowongan. Kami terus berjalan sampai keluar dari terowongan tersebut dan sampai di Taman Sari 10 menit kemudian.

    Dengan tiket seharga 5000 kami dapat memasuki tempat wisata tersebut. Terlihat dua kolam besar yang dulunya dipakai untuk mandi sultan dan kerabatnya. Kedua kolam tersebut tak terisi penuh. Airnya pun tak bersih. Mungkin sudah lama dibiarkan. 

    Betapa baiknya ketika kami ingin berselfie ada seorang bule yang yang menawarkan diri untuk memotretkan kami. Beliau adalah seorang laki-laki paruh baya yang perutnya buncit segede nangka tapi baiknya segede karung  beras.Photobucket


    Selesai muter-muter, kami pun keluar dengan muka-muka letih penuh raut kelaparan. Duduk bertiga di warung pasar ngasem memang yang paling pas! Porsi kuli plus harga terjangkau! *mahasiswa banget* Perut kenyang, lantas pulang. Sasaran kami berikutnya adalah tukang becak yang sudah modern. Yang nggenjotnya pake mesin tuh loooh! Biar nggak kasian bapaknya. Hhh....coba bayangkan kursi super mungil yang harusnya dipakai satu orang terlihat elegan, terus kalau dipakai dua orang masih bisa dibilang pantes. Nah terus, kalau dipakai tiga orang??! Mau dibilang apa? Orang ketiga duduk dimana? Di gendong tukang becaknya?? Hah,  nggak mungkin kan!Photobucket Dilipet-lipetlah tubuh kami biar hemat tempat, walhasil aku ngringkuk dengan posisi yang demi apapun itu nggak nyaman banget, bersama keempat kaki teman-temanku di bagian bawah. Masak iya si Din perempuan satu-satunya disuruh duduk nggantiin posisiku? Nggak lucu kan, walaupun kata tukang becaknya cewek zaman sekarang apapun bisa. Tapi kan? Hhh... ya it’s ok! No problem.Photobucket Aku aja yang duduk di bawah.


    Jalan-jalan hari ini selesai. Ditutup dengan menaiki becak yang ala kadarnya ini.
    Minggu, 7 September 2014

    ***
    Kuliah Perdana - Bahasa Arab

    Assalamu’alaikum?Photobucket Kuliah pertama sudah bahasa Arab aja nih. Aihh...pengantarnya super pokok’e! Bahasa Arab tuh sesuatu banget. Kata dosennya, satu kata dasar aja bisa diubah menjadi 36 kata baru! Dan harus hafal proses pembentukkannya! PhotobucketBerapa kata dasar ya di bahasa Arab?? Nggak kebayang bakalan gimana nantinya kuliah tahun-tahun berikutnya. 

    Dosennya cukup enak sih, tapi rada nyebelin. Suka kasih-kasih pertanyaan gitu. Terus kalau mahasiswanya nggak bisa jawab diejek. Nyebelin kan? Ya. milkysmilePadahal kan kita masih Maba di kampus. Memang bagus sih dosen yang atraktif begitu, tapi nggak enaknya yaa pas kebagian nggak bisa jawab pertanyaanya aja.

    Di kelas sih tadi harusnya ada 39 anak. Tapi, kayaknya nggak masuk semua. Ada beberapa anak yang dipanggil tidak hadir. Problem klasik, masuk terlambat dialami salah satu teman cewek bernama Dinda. Wah, jan kuliah pertama telat diomelin dosen tuh rasanya gimana ya? Mungkin biasa aja bagi dia. Tipe-tipe 3C sih dia. Cewek-Cewek Cuek. Apapun dia cuekin. Tadi masuk terlambat aja dia masih pake acara nglamun di kelas. Dapat hadiah pula, didaprat dosen. Komplit kan hari ini dia?Photobucket Tapi nggak papa Din semangat yaa semoga besok-besok nggak kena macet lagi n bisa masuk paling awal nyapu dulu.milkysmile Hehehe. 

    Oh, yaa beli kamus bahasa Arab yaa jangan lupa! *saling mengingatkan*

    Senin, 8 September 2014

    ***
    Benteng Vredeburg Yogyakarta


    Hari ini aku niat beli kamus Bahasa Arab bareng salah satu teman. Berangkat dari Kost pukul 07.05 sarapan di warung Mak Tum seperti biasa dan sampai kampus pukul 07.30. Kirim sms ke Koni dan ternyata sudah ada di sebelah terminal TJ. Lalu menunggu beberapa menit, kemudian kami sudah meluncur ke Shopping-tempat beli buku murah.  Tiga kali nanya plus negosiasi harga nggak ada yang pas, aku tetep kekeuh nyari yang selaras dengan isi dompet ala mahasiswa ini. Walhasil, keempat kalinya 50rb dapat 3 kamus. Horeee!! Padahal ni ya, tadi ditawarin persatu kamusnya 30-an ribu lebih!milkysmile Males banget kan? Hehe, bangga bisa nawar dengan lihai!milkysmile

    Selesai beli kamus kami berjalan ke malioboro. Jalan-jalan, beli makan, nawar topi dan  ternyata mbak-mbaknya nggak mau jual dengan harga tawaranku, lalu kami pun pergi. Sudah siang mau balik ke kampus, kami cari terminal TJ terdekat. Karena si Koni beli es teh  jadi aku duduk-duduk di bench pinggir jalan dulu. Ternyata di samping berdiri kokoh sebuah benteng besar. Benteng yang bercat warna putih vs krem dan bertuliskan VREDEBURG segede gaban di atas gerbangnya.
    Tampak Depan Museum Benteng VREDEBURG

     
    Tampak Halaman Museum Benteng VREDEBURG
    Masuk dengan tiket seharga 2000 rupiah *murah banget* dengan langkah riang gembira. Yay!milkysmile 
    Seragam Tentara
     
    Mesin Cetak Kedaulatan Rakyat

    Universitas Gdajah Mada Tempo Dulu
    Pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI
    Uang Zaman Jepang
    Para Seniman Bergerak untuk Kemerdekaan RI
    Seragam dan Perlengkapan PMI
    Sempat nge-game juga nih di sana.

    Senengnya jalan-jalan sambil belajar sejarah Indonesia, tiba-tiba segerombolan muda-mudi alay datang dan menghancurkan moodku yang lagi terang benderang jadi redup seketika. Jengkel!  Sudah selfie sana-sini berisik lagi! Kalau selfie aja sih masih mending, berisiknya itu loh nggak nahan!milkysmile Nih fotonya.
    Oh, ya tadi pas di depan benteng aku melihat ada komunitas super mulia yang membantu para penyandang disable (tuna netra) untuk gerak jalan. Sungguh sangat baik hati mereka ini, padahal usia mereka mungkin sudah tidak produktif lagi, tetapi masih mau dan mampu merawat para penyandang disable ini. Subhanallah!Photobucket Kawan-kawan patut dicontoh ya!

    Sabtu, 13 September 2014
    ***
     Pulkam : Tragedi Lempuyangan

    Jumat, 19 Sepetember 2014. Setelah sebulan lebih tinggal di kota perantauan para pelajar: Yogyakarta, akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi orang tua di Sragen hari ini.milkysmile Buru-buru berangkat dari Kost pukul 09.00 diantar menuju kampus untuk menjeput si Koni. Lalu kami menumpang TJ turun di Stasiun Lempuyangan pukul 10.20. kami spontan celingukan  mencari-cari jadwal keberangkatan KA Prameks tujuan Solo. Dua kata kunci kami hari ini: Solo dan Prameks, tidak kami temukan di papan keberangkatan sebesar whiteboard ukuran mini itu. Teliti kami menyapu bersih ruangan sekelumit yang sudah berjejal  orang-orang mengantre dengan khidmat dan kami tak menemukannya. Dan “Za, Za, itu tuh di depan loket pas!”, Koni berteriak histeris. Yeah!milkysmile Secarik kertas putih bertuliskan jadwal keberangkatan KA yang kami cari. Prameks tujuan Solo pukul 10.31.


    Heh, tunggu sebentar, berarti itu tandanya 8 menit lagi kami harus sudah berada di gerbong! Dan coba lihat, antrean sudah mengular kebelakang! Satu, dua, tiga, empat, lima, aku menghitung dari depan ke belakang. Delapan orang lebih. Kalau dihitung 1 menit untuk 1 orang, kami tidak akan tiba di gerbong tepat waktu. Kami akan tertinggal!milkysmile Hhh... kali ini aku berharap semoga jam karet masih berlaku di Indonesia. Dan lihatlah, tinggal 3 menit lagi! Antrean masih menyisakkan 5 orang! Cepat sekali waktu ini berlari. Aku benar-benar gelisah. Gundah. Resah. Agitato. Galau. milkysmileBerikut pertanyaan-pertanyaan yang begitu saja muncul di kepalaku. Apakah aku harus menyerobot antrean di depan? Tentu tidak! Apakah aku harus  menggunakan trik-trik tertentu agar manusia-manusia di depanku itu mau meninggalkan antreannya? Itu sama saja menyerobot, Goza! Dasar oon! Aku mengutuki diri sendiri.milkysmile Sudah cukup. Cukup!


    Aduh, Ya Allah, Ya Tuhanku, bantulah hamba-Mu ini. Semoga ada delay.  Masih 2 antrean lagi dan tersisa waktu hanya 1 menit. Sungguh, detik-detik yang sangat menyiksa! PhotobucketMelebihi adrenalin menaiki roller coaster setinggi 69 meter! Tersisa 1 orang lagi dan sekarang tinggal beberapa detik terakhir sebelum kereta mengepulkan asapnya tanda berangkat. Jantung ini berdegub kencang sekencang balap motor motoGP di Singapura. *Aduh lebay! Ah biarin! Bodo!*


    Entah semalem aku mimpi apa, atau si Koni ini mimpi apa aku tidak tau dan tidak mau tau, tiba-tiba Mbak-Mbak yang mengantre tepat di depanku itu dengan segala hormatnya memintaku untuk membeli tiket duluan! So surprise! Aku dan Koni langsung berteriak-teriak, loncat-lincat, milkysmilejumpalitan, jingkrak-jingkrak, guling-guling,milkysmile goyang ngebor, ngecor lantai, kayang, salto, apapun istilahnya itu kami lakukan. *Lebay? Nggak peduli!* Pokoknya, saking senangnya kami  berulang-kali mengucapkan terima kasih pada si Mbak-Mbak malaikat itu sampai bibir kami dower. milkysmile*Lebay lagi! Biarin!*


    Selesai urusan bibir dower, kami langsung berlari menuju tempat “checking tickets”. Sudah berdiri dua petugas yang siap siaga melayani kami. Kami serahkan tiket kami buru-buru. Jantungku masih berdegub kencang ala balap motoGP di Singapura tadi. Keringat dingin mengucur dari pelispis sebelah kanan. Mata mulai berkunang-kunang. *Ah, mulai lagi nih lebaynya! Cukup!* Checking tickets udah selesai. Buru-buru kami merebut tiketnya dari tangan petugas, dan kami pun berlari mencari kereta. Kosong. Lengang. Tak ada kereta. Apakah keretanya sudah berngkat?  PhotobucketOh my goodness! Oh no! Oh shit! Oh crap! Oh..oh..oh... Kami berlari lagi menuju petugas yang tadi dan bertanya, “Pak, keretanya mana ya?” “Oh,  belum datang, Mas!” *Krik...Krik....* Satu motor di sirkuit motoGP menabrak motor lain dan dua-duanya meledak seketika. Peretelan-peretelan kedua motor itu  malayang satu-persatu ke arah penonton. Buyarlah tontonan menarik itu, sebab kini menjadi neraka. Jantungku seakan berhenti berdetak.
    milkysmile
    *sakitnya tuh disini*
    Minggu, 21 September 2014 
    ***


    Kisah 2 Insan Renta
    Hari ini aku pulang dari kampus masih pukul 12.30. Menyusuri daerah kuningan seorang diri. Cuaca yang amat panas siang ini sungguh memaksa peluh tuk menampakkan dirinya.Photobucket Sekayuh, dua kayuh, tiga kayuh, beberapa kayuh kemudian aku mendapati sebuah pemandangan yang mungkin sudah biasa di mata kalian, tetapi sangat memilukan dan juga romantis di saat yang bersamaan, menurutku. Lihatlah, sepasang kekasih tua renta duduk di pinggir jalan tanpa sebuah payung atau apapun yang melindungi mereka dari terik panas matahari, mereka dengan nyamannya berjualan! PhotobucketCoba tebak apa yang mereka jual? Hanya topi-topi anyaman yang mereka beli dan dijual kembali.


    Sebenarnya sebelum pulang aku tak ada niat sama sekali untuk membeli benda itu. Tapi, coba lihat apa yang aku lalukan sekarang? Berhenti di pinggir jalan, memikirkan pemandangan dua insan renta tadi, lalu galau! Antara membantu meringankan beban dua insan itu atau membiarkannya saja.Photobucket Sempat aku berpikir sejenak, lalu aku memutuskan untuk...

    Pulang? Ya enggak lah, membantunya! Hahahamilkysmile *cieeee* Aku putar balik sepedaku, lalu mengayuhnya, dan aku pun berhenti di samping nenek dan kakek itu. Aku parkirkan sepedaku sekenanya dan aku pun bercakap-cakap dengan mereka. Menanyakan harga, so pasti! Dan aku nggak habis pikir, harganya cukup membuat tipis dompet mahasiswa! “Ya, Tuhan, mahal banget!”, batinku.milkysmile

    Hmm.. lalu aku coba mengalihkan pembicaraanku mengenai kehidupan mereka. Ibu Suminten dan Pak Tukiyat ini ternyata berasal dari Magelang. Anak mereka ternyata juga bersekolah di sekolah luar biasa, jadi tidak bisa membantu mereka bekerja. Mereka dari pagi berjualan hingga pukul 12.00. Ketika aku bertanya soal “jam terbang” mereka, ternyata pukul 12.00 itu, adalah 12.00 MALAM! Aku tak bisa berkata-kata. Aku kira 12.00 siang. Ternyata!milkysmile

    Hanya terbayang dalam benakku betapa Ibu Suminten dan Pak Tukiyat ini hidup sehari-hari  dihabiskan bersama dagangannya. Tak banyak yang beli pula. Ini pun aku sebenernya INGIN SEKALI TAK membelinya. Tapi, aku tahu dalam Bahasa Indonesia ada kosakata ‘membantu’. Makanya, salah satu gunanya kosakata adalah menerapkannya. Tetapi, menerapkan kosakata yang positif lho, yaaa! *Ih, mesti udah mikir yang aneh-aneh lu yaa?? Dasar! Ckckck* milkysmile Aku pun ingat wejangan dari Ibu, yang intinya harus saling membantu antara sesama. Pasti besok kalau kita yang kesusahan gantian ada yang membantu.


    Bukannya Ibu Suminten dan Pak Tukiyat ini lagi butuh bantuan, tapi aku sendiri yang tergerak untuk membantu mereka. Tak apa hanya membeli satu dagangan dari mereka, toh mereka jualan juga dalam rangka membutuhkan uang kan. Kalau bagi kita ya hitung-hitung sedekah. Kalkulasi Sang Maha Pemberi tak pernah salah, kawan!milkysmile Bermurah hatilah antar sesama, hatimu kan jadi tenteram.

    Sabtu, 27 September 2014
    ***