Apa Kabar?
Sial!
Pagi ini aku ada ESQ Mahasiswa Baru di kampus. Berangkat pukul 5.45 dari
Kost sambil mengayuhi si Lala dengan hati biasa aja. Sepagi itu perut belum terisi apapun.
Mampir di warung kaki lima pinggir jalan kaliurang kayaknya enak.
Lantas tanpa pikir panjang aku pun mampir di salah satu warung.
Seorang ibu paruh baya menyapaku dengan ramah. "monggo...", katanya. Aku pun duduk di salah satu kursi plastik yang telah beliau sediakan dan memesan makan. Hanya menunggu beberapa menit sudah siap kusantap satu porsi nasi kuning, mie goreng, kering tempe, dan mendoan dua biji. Rasanya bisa dibilang cukuplah untuk ukuran mahasiswa yang tiap hari selalu kangen masakan emaknya. hahaha
Selesai makan ada air mineral di samping gerobak si Ibu. Karena pagi itu cuman aku yang makan di tempat, si Ibu menuangkan satu gelas kecil untukku. Aku teguk beberapa kali, tetapi rasanya sedikit aneh. Terpaksa aku menyisakkannya. Mubazir yaa. (Jangan Ditiru).
Berapa Bu?, aku tanya. 4000 Mas..., jawab si Ibu. Oh iya? Demi apa pagi ini aku bisa sarapan dengan kenyang cuman bayar 4000?? Ah... baiknyaa si Ibu ini... Semoga cepet laris yaa Bu dagangannya.
Malam pun tiba....
Masak iya, nasi putih, telor, tempe, sambel, es teh, 10000!! Yang bener aja
Bang?! Sumpah ni ya, kalau dibandingkan sama sarapanku tadi pagi
jauuuhhh....kek bumi & langit men! Udah nyiapinnya lama, tehnya rasanya
agak basi, tempenya juga gak karuan, duuuhhhh...cukup! Tau gitu mendingan tadi
makan di GEPREK aja! 12rb dapet ayam campur sambel, es teh, plus nasi bisa
nambah pula!! Hhhh....*menghela napas panjang*
Lah, mesti akhirnya cuman bisa
bilang yasudahlah,, pengalaman...mau gimana lagi? *tetep nggondok*
Oke satu pengalaman baik & buruk buat hari ini. Hikmahnya apa hayoook?? Hmm...Sesuatu kemudahan pasti diikuti dengan kesusahan. Bisa istilah yang lain kebahagiaan pasti disertai dengan kesedihan. Hari ini paket komplit!
Rabu, 03 September 2014
***
Bubur Ayam Koclak Khas Cianjur
Ini nih sarapanku pagi ini. Bubur Ayam Koclak Cianjur! Aku nggak tau makna kata koclak itu apa. Setauku bubur ayam satu ini tuh rasanya 'menggelora memecah langit angkasa raya'! *apa sih* Uenaaaakk pake banget!
Haha lebay yak? Eh tapi nggak bohong lho. Beneran, cari aja si mas-mas tukang bubur ini yang biasa 'menampakkan' dirinya bersama gerobak plus bubur ayamnnya tiap pagi di sekitar jalan kaliurang km 4,5.
Dengan patokan harga 6000 kalian sudah bisa menyantap bubur ayam khas Cianjur ini tanpa harus bersusah-payah pergi Cianjur beneran. Cukup di Jakal aja ada. Cobain yak, gerobaknya warna kuning di pinggir jalan. Dijamin ketagihan deh, nggak kalah kok sama bubur ayam jakarta. Sama-sama uenaaak!*nomnomnom*
Kamis, 04 September 2014
***
Kupu - Kupu Mimpi
Hari ini aku mengikuti acara "Simamoru" di kampus. Simamoru itu acara untuk para mahasiswa baru muslim agar saling kenal-mengenal lebih dari mahasiswa lainnya. Acara ini mungkin cuman ada di fakultasku aja. Acara yang dimulai pukul 07.00 selesai pukul 15.00 ini berisi macam-macam agenda yang cukup seru! Salah satunya Upacara Kupu - Kupu Mimpi.
Wah, agenda ini memang yang paling menarik menurutku. Sebenarnya, bukan kupu-kupu mimpi sih, tapi lebih tepatnya buah-buahan mimpi. Karena objek yang kita gunakan berupa kertas yang dibentuk buah-buahan.
Jadi begini, dulu ada seorang mahasiswi yang bernama mbak Rahma.
Ia menuliskan mimpi-mimpinya di banyak kertas yang dibentuk kupu-kupu. Mimpinya bermacam-macam. Mungkin salah satunya adalah ingin pergi keluar negeri; Korea Selatan. Tetapi, banyak dari teman-temannya yang menertawai mbak Rahma. Mbak Rahma tak menggubrisnya.
Ia masih saja menuliskan mimpi-mimpinya di kupu-kupu itu. Ia percaya bahwa suatu saat nanti mimpinya bakalan terwujud.
Dan surprisingly, mimpi-mimpi mbak Rahma satu persatu terwujud!
Korea selatan pun berhasil ia jamah! Lalu mimpi-mimpinya yang lain juga menyusul. Tentu mbak Rahma sangat bahagia dan selalu bersyukur, akhirnya ia bisa membuktikan pada dirinya sendiri dan teman-temannya (yang menertawakan) bahwa apa yang ia lakukan bukanlah lelucon.
Melalui kisah mbak Rahma tadi, kita bisa memetik hikmah di dalamnya, kawan. Yaitu, the miracle of believing the dreams!
Orang yang biasa menuliskan mimpi-mimpinya adalah ia yang mampu mewujudkan mimpi-mimpinya. So, tunggu apa lagi kawan, tulis segera mimpi-mimpimu! Dan lihatlah 5,8,10 tahun yang akan datang kau akan menjadi seperti yang kau impikan!
Jumat, 05 September 2014
***
Jalan-jalan ke FKY
Dengan tiket seharga
5000 kami dapat memasuki tempat wisata tersebut. Terlihat dua kolam besar yang
dulunya dipakai untuk mandi sultan dan kerabatnya. Kedua kolam tersebut tak
terisi penuh. Airnya pun tak bersih. Mungkin sudah lama dibiarkan.
***
Kuliah Perdana - Bahasa Arab
Senin, 8 September 2014
***
Ini nih sarapanku pagi ini. Bubur Ayam Koclak Cianjur! Aku nggak tau makna kata koclak itu apa. Setauku bubur ayam satu ini tuh rasanya 'menggelora memecah langit angkasa raya'! *apa sih* Uenaaaakk pake banget!
Kamis, 04 September 2014
***
Kupu - Kupu Mimpi
Hari ini aku mengikuti acara "Simamoru" di kampus. Simamoru itu acara untuk para mahasiswa baru muslim agar saling kenal-mengenal lebih dari mahasiswa lainnya. Acara ini mungkin cuman ada di fakultasku aja. Acara yang dimulai pukul 07.00 selesai pukul 15.00 ini berisi macam-macam agenda yang cukup seru! Salah satunya Upacara Kupu - Kupu Mimpi.
Wah, agenda ini memang yang paling menarik menurutku. Sebenarnya, bukan kupu-kupu mimpi sih, tapi lebih tepatnya buah-buahan mimpi. Karena objek yang kita gunakan berupa kertas yang dibentuk buah-buahan.
Jadi begini, dulu ada seorang mahasiswi yang bernama mbak Rahma.
Dan surprisingly, mimpi-mimpi mbak Rahma satu persatu terwujud!
Melalui kisah mbak Rahma tadi, kita bisa memetik hikmah di dalamnya, kawan. Yaitu, the miracle of believing the dreams!
Jumat, 05 September 2014
***
Jalan-jalan ke FKY
Kemarin aku sama dua
temanku tanpa rencana alias dadakan pergi ke Festival Kesenian Yogyakarta.
Sebut aja mereka Koni dan Din. Mereka ini tak lain tak bukan adalah teman satu
jurusanku. Selesai acara ambil-mengambil buku di kampus, kami pun langsung
tancap gas meluncur ke FKY dengan Trans Jogja atau orang-orang biasa menyebutnya TJ. Kami tak
butuh waktu lama untuk “mendarat” di terminal TJ yang ternyata ada di depan
gedung rektorat kampus kami.
Memang Indonesia yee,
apa-apa mesti kudu nunggu lama. Walhasil, setelah setengah jam menunggu, nongol
juga tuh TJ.
Harusnya bukan TJ yang ini yang kami tumpangi, tapi TJ berikutnya.
Tak apalah, daripada nunggu lagi mending langsung naik yang ini. Toh konsekuensinya cuman transit di terminal berikutnya. TJ pun bergerak dan kami berangkat.
Ternyata.... setelah kami turun di terminal
Taman Pintar yang disarankan mas-mas penjaga terminal depan rektorat tadi. Saran doi tak berujung manis sama sekali! Kami harus berjalan lagi sekitar satu
kilometer lebih untuk sampai ke lokasi. Naasnya hari itu benar-benar panas.
Jam-jam keritis perut sudah gedomprengan tak karu-karuan.
Kami terus berjalan
menelusuri jalan tersebut menuju FKY.
Hhhh....lamaaa setelah
berjalan sambil ngos-ngosan ditambah bonus kulit item langsat, kami pun melihat pintu
gerbang besar bertuliskan “FKY”. Senyum lega
tersungging manis dari bibir kami, spontaniously.
Kami mulai memasuki
area FKY. SEDIH! Ternyata cuman segelintir penjual yang membuka lapaknya pada siang
hari, yang lainnya tutup. Kami sempat kecewa, tetepi setelah kami menemukan jalan
menuju suatu tempat bersejarah di sekitar sana rasa kecewa itu pun seketika sirna.
Mungkin bangunan itu dulunya adalah benteng. Berdiri kokoh tembok bebatuan yang
super keras dan besar. Warna coklat yang mendominasi tempat itu jadi terlihat
seperti bangunan-bangunan kuno di Mesir. Kami menuju salah satu balkon yang
kami kira bakalan melihat pemandangan yang sangat menajubkan.
Dan ternyata apa?
Cuman genteng kumuh milik para penduduk sekitar. Hhhh... sayang.
Dan ternyata apa?
Cuman genteng kumuh milik para penduduk sekitar. Hhhh... sayang.
Kami pun masih lanjut
menelusuri tempat itu. Berjalan menuruni tangga. Kami coba mengikuti petunjuk
arah yang sudah disediakan. Ke arah kanan; Taman Sari. Kami mengikutinya.
Menyusuri terowongan bercat putih yang sudah luntur. Terowongan yang cukup
panjang dan dingin. Terlihat satu pengemis di ujung terowongan. Kami terus
berjalan sampai keluar dari terowongan tersebut dan sampai di Taman Sari 10 menit kemudian.
Dengan tiket seharga
5000 kami dapat memasuki tempat wisata tersebut. Terlihat dua kolam besar yang
dulunya dipakai untuk mandi sultan dan kerabatnya. Kedua kolam tersebut tak
terisi penuh. Airnya pun tak bersih. Mungkin sudah lama dibiarkan.
Betapa baiknya ketika
kami ingin berselfie ada seorang bule yang yang menawarkan diri untuk
memotretkan kami. Beliau adalah seorang laki-laki paruh baya yang perutnya buncit
segede nangka tapi baiknya segede karung beras.
Selesai muter-muter,
kami pun keluar dengan muka-muka letih penuh raut kelaparan. Duduk bertiga di
warung pasar ngasem memang yang paling pas! Porsi kuli plus harga terjangkau! *mahasiswa banget* Perut
kenyang, lantas pulang. Sasaran kami berikutnya adalah tukang becak yang sudah modern. Yang
nggenjotnya pake mesin tuh loooh! Biar nggak kasian bapaknya. Hhh....coba
bayangkan kursi super mungil yang harusnya dipakai satu orang terlihat elegan,
terus kalau dipakai dua orang masih bisa dibilang pantes. Nah terus, kalau dipakai tiga orang??!
Mau dibilang apa? Orang ketiga duduk dimana? Di gendong tukang becaknya?? Hah, nggak mungkin kan!
Dilipet-lipetlah tubuh kami biar hemat tempat,
walhasil aku ngringkuk dengan posisi yang demi apapun itu nggak nyaman banget,
bersama keempat kaki teman-temanku di bagian bawah.
Masak iya si Din perempuan satu-satunya disuruh duduk nggantiin posisiku? Nggak
lucu kan, walaupun kata tukang becaknya cewek zaman sekarang apapun bisa. Tapi
kan? Hhh... ya it’s ok! No problem.
Aku aja yang duduk di bawah.
Jalan-jalan hari ini
selesai. Ditutup dengan menaiki becak yang ala kadarnya ini.
Minggu, 7 September 2014***
Kuliah Perdana - Bahasa Arab
Assalamu’alaikum?
Kuliah pertama sudah bahasa Arab aja nih. Aihh...pengantarnya super pokok’e!
Bahasa Arab tuh sesuatu banget. Kata dosennya, satu kata dasar aja bisa diubah
menjadi 36 kata baru! Dan harus hafal proses pembentukkannya!
Berapa kata dasar
ya di bahasa Arab?? Nggak kebayang bakalan gimana nantinya kuliah tahun-tahun
berikutnya.
Dosennya cukup enak
sih, tapi rada nyebelin. Suka kasih-kasih pertanyaan gitu. Terus kalau
mahasiswanya nggak bisa jawab diejek. Nyebelin kan? Ya.
Padahal kan kita masih Maba di kampus. Memang bagus sih dosen yang atraktif begitu, tapi nggak
enaknya yaa pas kebagian nggak bisa jawab pertanyaanya aja.
Di kelas sih tadi
harusnya ada 39 anak. Tapi, kayaknya nggak masuk semua. Ada beberapa anak yang
dipanggil tidak hadir. Problem klasik, masuk terlambat dialami salah satu
teman cewek bernama Dinda. Wah, jan kuliah pertama telat diomelin dosen tuh
rasanya gimana ya? Mungkin biasa aja bagi dia. Tipe-tipe 3C sih dia.
Cewek-Cewek Cuek. Apapun dia cuekin. Tadi masuk terlambat aja dia masih
pake acara nglamun di kelas. Dapat hadiah pula, didaprat dosen. Komplit kan
hari ini dia?
Tapi nggak papa Din semangat yaa semoga besok-besok nggak kena
macet lagi n bisa masuk paling awal nyapu dulu.
Hehehe.
Oh, yaa beli kamus
bahasa Arab yaa jangan lupa! *saling mengingatkan*
Senin, 8 September 2014
***
Benteng Vredeburg Yogyakarta
Hari ini aku niat beli kamus Bahasa Arab bareng
salah satu teman. Berangkat dari Kost pukul 07.05 sarapan di
warung Mak Tum seperti biasa dan sampai kampus pukul 07.30. Kirim sms ke Koni dan
ternyata sudah ada di sebelah terminal TJ. Lalu menunggu beberapa menit, kemudian
kami sudah meluncur ke Shopping-tempat beli buku murah. Tiga kali nanya plus negosiasi harga nggak ada
yang pas, aku tetep kekeuh nyari yang selaras dengan isi dompet ala mahasiswa
ini. Walhasil, keempat kalinya 50rb dapat 3 kamus. Horeee!! Padahal ni ya, tadi
ditawarin persatu kamusnya 30-an ribu lebih!
Males banget kan? Hehe, bangga
bisa nawar dengan lihai!
Selesai beli kamus kami berjalan ke malioboro.
Jalan-jalan, beli makan, nawar topi dan ternyata mbak-mbaknya nggak mau jual dengan
harga tawaranku, lalu kami pun pergi. Sudah siang mau balik ke kampus, kami cari terminal
TJ terdekat. Karena si Koni beli es teh jadi aku duduk-duduk di bench pinggir jalan dulu. Ternyata di samping
berdiri kokoh sebuah benteng besar. Benteng yang bercat warna putih vs krem dan
bertuliskan VREDEBURG segede gaban di atas gerbangnya.
![]() | ||
| Tampak Depan Museum Benteng VREDEBURG |
![]() |
| Seragam Tentara |
![]() |
| Universitas Gdajah Mada Tempo Dulu |
![]() |
| Pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI |
![]() |
| Uang Zaman Jepang |
![]() |
| Para Seniman Bergerak untuk Kemerdekaan RI |
![]() |
| Seragam dan Perlengkapan PMI |
Sempat nge-game juga nih di sana.
Senengnya jalan-jalan sambil belajar sejarah
Indonesia, tiba-tiba segerombolan muda-mudi alay datang dan menghancurkan moodku yang lagi terang benderang jadi
redup seketika. Jengkel! Sudah selfie
sana-sini berisik lagi! Kalau selfie aja sih masih mending, berisiknya itu loh
nggak nahan!
Nih fotonya.
Oh, ya tadi pas di depan benteng aku melihat ada
komunitas super mulia yang membantu para penyandang disable (tuna netra) untuk gerak jalan. Sungguh sangat baik hati
mereka ini, padahal usia mereka mungkin sudah tidak produktif lagi, tetapi
masih mau dan mampu merawat para penyandang disable
ini. Subhanallah!
Kawan-kawan patut dicontoh ya!
Sabtu, 13 September 2014
***
Pulkam : Tragedi Lempuyangan
***
Pulkam : Tragedi Lempuyangan
Jumat, 19 Sepetember 2014. Setelah sebulan lebih
tinggal di kota perantauan para pelajar: Yogyakarta, akhirnya aku memutuskan
untuk mengunjungi orang tua di Sragen hari ini.
Buru-buru berangkat dari Kost pukul 09.00 diantar menuju kampus untuk
menjeput si Koni. Lalu kami menumpang TJ turun di Stasiun
Lempuyangan pukul 10.20. kami spontan celingukan mencari-cari jadwal keberangkatan KA Prameks
tujuan Solo. Dua kata kunci kami hari ini: Solo dan Prameks, tidak kami
temukan di papan keberangkatan sebesar whiteboard
ukuran mini itu. Teliti kami menyapu bersih ruangan sekelumit yang sudah
berjejal orang-orang mengantre dengan
khidmat dan kami tak menemukannya. Dan “Za, Za, itu tuh di depan loket pas!”, Koni berteriak histeris.
Yeah!
Secarik kertas putih bertuliskan jadwal keberangkatan KA yang kami cari. Prameks
tujuan Solo pukul 10.31.
Heh, tunggu sebentar, berarti itu tandanya 8 menit
lagi kami harus sudah berada di gerbong! Dan coba lihat, antrean sudah mengular
kebelakang! Satu, dua, tiga, empat, lima, aku menghitung dari depan ke
belakang. Delapan orang lebih. Kalau dihitung 1 menit untuk 1 orang, kami tidak
akan tiba di gerbong tepat waktu. Kami akan tertinggal!
Hhh... kali ini aku
berharap semoga jam karet masih berlaku di Indonesia. Dan lihatlah, tinggal 3
menit lagi! Antrean masih menyisakkan 5 orang! Cepat sekali waktu ini berlari. Aku
benar-benar gelisah. Gundah. Resah. Agitato. Galau.
Berikut
pertanyaan-pertanyaan yang begitu saja muncul di kepalaku. Apakah aku harus
menyerobot antrean di depan? Tentu tidak! Apakah aku harus menggunakan trik-trik tertentu agar
manusia-manusia di depanku itu mau meninggalkan antreannya? Itu sama saja
menyerobot, Goza! Dasar oon! Aku mengutuki diri sendiri.
Sudah cukup. Cukup!
Aduh, Ya Allah, Ya Tuhanku, bantulah hamba-Mu ini. Semoga
ada delay. Masih 2 antrean lagi dan tersisa waktu hanya
1 menit. Sungguh, detik-detik yang sangat menyiksa!
Melebihi adrenalin menaiki roller coaster setinggi 69 meter! Tersisa
1 orang lagi dan sekarang tinggal beberapa detik terakhir sebelum kereta
mengepulkan asapnya tanda berangkat. Jantung ini berdegub kencang sekencang
balap motor motoGP di Singapura.
*Aduh lebay! Ah biarin! Bodo!*
Entah semalem aku mimpi apa, atau si Koni ini mimpi
apa aku tidak tau dan tidak mau tau, tiba-tiba Mbak-Mbak yang mengantre tepat
di depanku itu dengan segala hormatnya memintaku untuk membeli tiket duluan! So surprise! Aku dan Koni langsung
berteriak-teriak, loncat-lincat,
jumpalitan, jingkrak-jingkrak, guling-guling,
goyang ngebor, ngecor lantai, kayang, salto, apapun istilahnya itu kami lakukan. *Lebay? Nggak peduli!*
Pokoknya, saking senangnya kami
berulang-kali mengucapkan terima kasih pada si Mbak-Mbak malaikat itu
sampai bibir kami dower.
*Lebay lagi! Biarin!*
Selesai urusan bibir dower, kami langsung berlari
menuju tempat “checking tickets”. Sudah
berdiri dua petugas yang siap siaga melayani kami. Kami serahkan tiket kami buru-buru. Jantungku masih berdegub kencang ala balap motoGP di Singapura
tadi. Keringat dingin mengucur dari pelispis sebelah kanan. Mata mulai
berkunang-kunang. *Ah, mulai lagi nih lebaynya! Cukup!* Checking tickets udah
selesai. Buru-buru kami merebut tiketnya dari tangan petugas, dan kami pun
berlari mencari kereta. Kosong. Lengang. Tak ada kereta. Apakah keretanya sudah
berngkat?
Oh my goodness! Oh no! Oh shit! Oh crap!
Oh..oh..oh... Kami berlari lagi menuju petugas yang tadi dan bertanya, “Pak,
keretanya mana ya?” “Oh, belum datang,
Mas!” *Krik...Krik....* Satu motor di
sirkuit motoGP menabrak motor lain dan dua-duanya meledak seketika. Peretelan-peretelan
kedua motor itu malayang satu-persatu ke
arah penonton. Buyarlah tontonan menarik itu, sebab kini menjadi neraka. Jantungku
seakan berhenti berdetak.
*sakitnya tuh disini*
Minggu, 21 September 2014
***
Kisah 2 Insan Renta
Hari ini aku pulang dari kampus masih pukul 12.30. Menyusuri
daerah kuningan seorang diri. Cuaca yang amat panas siang ini sungguh memaksa
peluh tuk menampakkan dirinya.
Sekayuh, dua kayuh, tiga kayuh, beberapa kayuh kemudian aku mendapati sebuah pemandangan yang mungkin sudah biasa di mata
kalian, tetapi sangat memilukan dan juga romantis di saat yang bersamaan, menurutku.
Lihatlah, sepasang kekasih tua renta duduk di pinggir jalan tanpa sebuah payung
atau apapun yang melindungi mereka dari terik panas matahari, mereka dengan
nyamannya berjualan!
Coba tebak apa yang mereka jual? Hanya topi-topi anyaman
yang mereka beli dan dijual kembali.
Sebenarnya sebelum pulang aku tak ada niat sama
sekali untuk membeli benda itu. Tapi, coba lihat apa yang aku lalukan sekarang?
Berhenti di pinggir jalan, memikirkan pemandangan dua insan renta tadi, lalu
galau! Antara membantu meringankan beban dua insan itu atau membiarkannya saja.
Sempat
aku berpikir sejenak, lalu aku memutuskan untuk...
Pulang? Ya enggak lah, membantunya! Hahaha
*cieeee*
Aku putar balik sepedaku, lalu mengayuhnya, dan aku pun berhenti di samping
nenek dan kakek itu. Aku parkirkan sepedaku sekenanya dan aku pun
bercakap-cakap dengan mereka. Menanyakan harga, so pasti! Dan aku nggak habis
pikir, harganya cukup membuat tipis dompet mahasiswa! “Ya, Tuhan, mahal banget!”,
batinku.
Hmm.. lalu
aku coba mengalihkan pembicaraanku mengenai kehidupan mereka. Ibu Suminten dan
Pak Tukiyat ini ternyata berasal dari Magelang. Anak mereka ternyata juga
bersekolah di sekolah luar biasa, jadi tidak bisa membantu mereka bekerja. Mereka
dari pagi berjualan hingga pukul 12.00. Ketika aku bertanya soal “jam terbang”
mereka, ternyata pukul 12.00 itu, adalah 12.00 MALAM! Aku tak bisa
berkata-kata. Aku kira 12.00 siang. Ternyata!
Hanya terbayang dalam benakku betapa Ibu Suminten
dan Pak Tukiyat ini hidup sehari-hari dihabiskan
bersama dagangannya. Tak banyak yang
beli pula. Ini pun aku sebenernya INGIN SEKALI TAK membelinya. Tapi, aku tahu
dalam Bahasa Indonesia ada kosakata ‘membantu’. Makanya, salah satu gunanya
kosakata adalah menerapkannya. Tetapi, menerapkan kosakata yang positif lho,
yaaa! *Ih, mesti udah mikir yang aneh-aneh lu yaa?? Dasar! Ckckck*
Aku pun ingat
wejangan dari Ibu, yang intinya harus saling membantu antara sesama. Pasti besok kalau kita yang kesusahan gantian ada yang membantu.
Bukannya Ibu Suminten dan Pak Tukiyat ini lagi butuh
bantuan, tapi aku sendiri yang tergerak untuk membantu mereka. Tak apa hanya
membeli satu dagangan dari mereka, toh mereka jualan juga dalam rangka
membutuhkan uang kan. Kalau bagi kita ya hitung-hitung sedekah. Kalkulasi Sang
Maha Pemberi tak pernah salah, kawan!
Bermurah hatilah antar sesama, hatimu kan jadi tenteram.
Sabtu, 27 September 2014
***
***










.jpg)














Posting Komentar