1986. Ia terlahir tak seperti
bayi-bayi biasanya. Ia pun menangis, tetapi bukan itu yang jadi masalah. Coba
lihat, ia nampak besar sekali! Ini sebuah keganjilan. Tercatat ia dengan berat 6.25
kg dan panjang 59cm. Bayi raksasa! Rupanya kelebihan berat badan yang bayi ini alami disebabkan
adanya masalah dengan sistem pembakaran lemak di tubuhnya. Penyebabnya adalah
kelainan genetis dari keluarganya. Dalam hal ini, kakek buyut dan kakeknya pun
pernah mengalami hal yang sama. Kelainan ini menyebabkan bobot tubuh tidak akan
pernah bisa turun melainkan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Malangnya,
kelainan ini tidak bisa disembuhkan sehingga apapun pengobatan dan usaha yang
dilakukan untuk membuat berat badannya normal adalah hal yang sia-sia. Bayi
raksasa ini diberi nama Gusni Annisa Puspita.
Gusni dirawat dan dibesarkan oleh
keluarganya di sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu bertaman dan tepat di
pojok kanan taman terdapat sebatang pohon mangga lengkap dengan buahnya yang
ranum. Seperti kisah anak-anak pada umumnya, Gusni dengan riang gembira bermain
bersama keluarga dan teman-temannya. Gusni adalah anak yang periang. Ia juga
mengikuti KBM setelah cukup umur untuk bersekolah. Memang ia tak seberuntung
teman-temanya yang lain, tetapi ia tetap menjadi Gusni yang menyenangkan. Ia
pun memiliki cita-cita yang mulia seperti kakaknya; menjadi atlet bulutangkis
nasional.
Papa, Mama, dan Kak Gita sudah
menunggu sejak lama ingin memberitahukan kabar yang disampaikan kakek untuk
Gusni. Mereka menunggu waktu yang tepat agar Gusni bisa mengerti semuanya dan
mau menerima dengan lapang dada.
Sampai pada suatu malam mereka
berkumpul di ruang tamu. Gusni menuruni tangga dengan raut muka penuh curiga.
Gusni pun duduk di depan orang-orang yang ia cintai; Papa, Mama, dan Kak Gita.
Pelan tapi pasti, Papa berusaha menjelaskan semuanya kepada Gusni.
Dilihatkannya album foto keluarga besar mereka kepada Gusni. Sekilas terlihat
keluarga besar yang damai-damai saja tanpa ada masalah.
Tak lama kemudian, Gusni pun melihat
kejanggalan itu. Ada dua anggota keluarga yang mirip dengan dirinya; mempunyai
badan besar. Mereka adalah kakek buyut dan anaknya. Gusni tertegun melihat dua
sosok itu. “Apa yang terjadi?”, pikir Gusni. Pertanyaan itu pun terjawab
setelah Gusni mendengar penjelasan dari Papa. Bahwa kedua anggota tersebut mengidap
penyakit yang sama dengan Gusni. Sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan
mereka tidak sampai umur kedua puluh lima tahun sudah tiada. Air mata pun tak terbendung
lagi. Tangis mereka pecah. Terlebih Gusni, ia menangis sampai terisak di
pelukan Papanya. Lalu Mama, dan Kak Gita bersama-sama memeluk Gusni dan Papa.
Malam itu terasa sangat menyedihkan.
Semakin tambah umur, semakin tambah
pula berat badan Gusni. Sekarang berat badan Gusni sudah 125 kg. Namun, Gusni
tak mau dikalahkan oleh penyakit yang ia derita. Ia tetap bersikeras melawan
penykit itu sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi atlet bulutangkis seperti
kakaknya. Setiap hari Gusni berlatih di GOR bersama Pak Pelatih. Berangkat dari
rumah dengan menggendong ransel besar dan Gusni berlari menuju GOR pun di sana
Gusni hanya diminta Pak Pelatih untuk berlari mengelilingi gelanggang. Ia
menurut saja. Gusni berlari sembari memegang raket nyamuk yang biasa ia gunakan
waktu kecil untuk mematikan nyamuk yang menggigiti badannya.
Hari pertama sampai hari keempat
puluh enam Gusni masih berlari mengelilingi gelanggang. Baru mulai hari keempat
puluh tujuh Gusni diminta Pak Pelatih untuk latihan terima bola. Pak Pelatih
orang yang sangat tegas. Gusni benar-benar digembleng kedisiplinannya agar
latihan yang ia jalani ini tidak sia-sia. Hari kelima puluh lima, Gusni turun
dari tribun dengan napas yang memburu cepat. Hari ini terlihat hanya ada satu
“penerbangan” yang membawa kok ke tribun. Puluhan lebih sisanya berantakan di
lapangan.
Lalu hari kesembilan puluh dua,
hari besar untuk Gusni. Ia bertanding untuk pertama kalinya!
Gusni melihat sekeliling, semua
penonton memerhatikkannya. Gusni memegang raket dengan erat dan serve pertama ia lakukan. Kok hanya
melayang pelan di atas net. Satu poin untuk Ria dan Gusni masih kosong.
Kemudian gantian Ria serve dan dua kali kok masuk dengan sempurna ke area
Gusni. Skor 3-0 untuk Ria-Gusni. Gusni mengembalikkan kok ke Ria dan out! Suara gemuruh di tribun, para
penonton menyoraki jagoan masing-masing. Gusni! Ria! Gusni! Ria! Gusni melihat
kok menuju ke arahnya. Ia maju selangkah dan berhasil mengangkat kok tipis di
depan net, Ria berusaha menjangkaunya dan gagal! Yes! Gusni memekik dan
disambut riuh suara pendukung Gusni. Papa pun tersenyum lega. Skor 1-4. Gusni
bersiap serve kembali. Ia menatap
Ria, dan terus menatapnya. Ia teringat sesuatu. Gusni mengayunkan tangannya ke
belakang dan tick...Gusni serve
meniru gaya Ria dan masuk! Ria tertipu lagi. Skor 6-4! YEAH!
Blash! Ria! Ria! Ria! Out! Blash!
Mantap Gusni! Ayo Ria! Ria! Yeah! Gusni! Gusni! Gusni! Yesss!! Skor 20-11.
Blash! Ria! Gusni! Gusni! Ria! Match
point! Gusni serve! Tick...pelan,
dikembalikan oleh Ria. Masih bisa diangkat lagi oleh Gusni. Dan tiba-tiba SMASH
dari Ria keras sekali. Tetapi, Gusni masih sigap mengembalikkannya dan SMASH
lagi. Keras dan tajam. Masih juga bisa dikembalikkan oleh Gusni. Ria semakin
emosional menatap tajam Gusni dan “ARRGGHH!” kok menukik tajam tepat di
tengah-tengah net dan kok jatuh di area Ria. YEAH!! Gusni mengepalkan tangannya
ke udara. Gusni sangat senang dan puas. Papa, Mama, dan Kak Gita tersenyum bangga melihat Gusni hari
ini menang.
Begitu banyak perjalanan yang harus
Gusni tempuh. Pertandingan demi pertandingan yang akan ia lewati seakan menjadi
motivasi tersendiri untuk ia tetap bertahan melawan penyakitnya sekaligus
meraih cita-citanya menjadi atlet bulutangkis nasional. Perempuan bertubuh
gempal ini seakan tidak punya beban seperti burung terbang sesukanya. Ia pun
sangat kuat dengan pendirian yang ia miliki walau pernah terjatuh dan masuk
rumah sakit sewaktu bertanding. Namun, ia tetap menjadi Gusni yang hebat. Atlet
bulutangkis kita! Gusni Annisa Puspita! Sampai akhirnya ia menjadi Sang Juara dalam Khatulistiwa Terbuka untuk
negara Indonesia. The National Team of
The Republic of Indonesia!
Itulah Gusni. Perempuan hebat yang
melawan penyakitnya serta mampu meraih cita-citanya. Semua itu bermula dari
mimpi. Mimpi masa kecil Gusni yang ingin menjadi atlet bulutangkis nasional.
Berawal dari raket nyamuk yang ia bawa latihan setiap hari. Berawal dari setiap
saat ia berlari. Berawal dari imajinasi dan kemudian menjadi nyata.
Segala sesuatu diciptakan 2 kali.
Dalam dunia imajinasi dan dalam dunia nyata. Dengan kerja keras, tinggalkan
bukti di dunia nyata bahwa impian itu, ada. Bersama alam bawah sadar Gusni
bermimpi, bersama alam sadar Gusni berjuang. Manusia layaknya percaya ia hidup
karenanya, ia ada untuk percaya bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang luar biasa
untuk dirinya. Bahwa dibalik keterbatasan dan ketidaksempurnaan hidup, setiap
diri ini adalah kekuatan yang tidak pernah sedikit pun diremehkan oleh Sang
Pencipta. Segala sesuatu diciptakan 2 kali.






Posting Komentar