Sinopsis Novel 2 - Donny Dhirgantoro

    Author: Ghozali Saputra Genre: »
    Rating


    1986. Ia terlahir tak seperti bayi-bayi biasanya. Ia pun menangis, tetapi bukan itu yang jadi masalah. Coba lihat, ia nampak besar sekali! Ini sebuah keganjilan. Tercatat ia dengan berat 6.25 kg dan panjang 59cm. Bayi raksasa! Rupanya kelebihan berat badan yang bayi ini alami disebabkan adanya masalah dengan sistem pembakaran lemak di tubuhnya. Penyebabnya adalah kelainan genetis dari keluarganya. Dalam hal ini, kakek buyut dan kakeknya pun pernah mengalami hal yang sama. Kelainan ini menyebabkan bobot tubuh tidak akan pernah bisa turun melainkan terus bertambah seiring bertambahnya usia. Malangnya, kelainan ini tidak bisa disembuhkan sehingga apapun pengobatan dan usaha yang dilakukan untuk membuat berat badannya normal adalah hal yang sia-sia. Bayi raksasa ini diberi nama Gusni Annisa Puspita.

    Gusni dirawat dan dibesarkan oleh keluarganya di sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu bertaman dan tepat di pojok kanan taman terdapat sebatang pohon mangga lengkap dengan buahnya yang ranum. Seperti kisah anak-anak pada umumnya, Gusni dengan riang gembira bermain bersama keluarga dan teman-temannya. Gusni adalah anak yang periang. Ia juga mengikuti KBM setelah cukup umur untuk bersekolah. Memang ia tak seberuntung teman-temanya yang lain, tetapi ia tetap menjadi Gusni yang menyenangkan. Ia pun memiliki cita-cita yang mulia seperti kakaknya; menjadi atlet bulutangkis nasional.

    Papa, Mama, dan Kak Gita sudah menunggu sejak lama ingin memberitahukan kabar yang disampaikan kakek untuk Gusni. Mereka menunggu waktu yang tepat agar Gusni bisa mengerti semuanya dan mau menerima dengan lapang dada. 

    Sampai pada suatu malam mereka berkumpul di ruang tamu. Gusni menuruni tangga dengan raut muka penuh curiga. Gusni pun duduk di depan orang-orang yang ia cintai; Papa, Mama, dan Kak Gita. Pelan tapi pasti, Papa berusaha menjelaskan semuanya kepada Gusni. Dilihatkannya album foto keluarga besar mereka kepada Gusni. Sekilas terlihat keluarga besar yang damai-damai saja tanpa ada masalah. 

    Tak lama kemudian, Gusni pun melihat kejanggalan itu. Ada dua anggota keluarga yang mirip dengan dirinya; mempunyai badan besar. Mereka adalah kakek buyut dan anaknya. Gusni tertegun melihat dua sosok itu. “Apa yang terjadi?”, pikir Gusni. Pertanyaan itu pun terjawab setelah Gusni mendengar penjelasan dari Papa. Bahwa kedua anggota tersebut mengidap penyakit yang sama dengan Gusni. Sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan mereka tidak sampai umur kedua puluh lima tahun sudah tiada. Air mata pun tak terbendung lagi. Tangis mereka pecah. Terlebih Gusni, ia menangis sampai terisak di pelukan Papanya. Lalu Mama, dan Kak Gita bersama-sama memeluk Gusni dan Papa. Malam itu terasa sangat menyedihkan.

    Semakin tambah umur, semakin tambah pula berat badan Gusni. Sekarang berat badan Gusni sudah 125 kg. Namun, Gusni tak mau dikalahkan oleh penyakit yang ia derita. Ia tetap bersikeras melawan penykit itu sekaligus mewujudkan cita-citanya menjadi atlet bulutangkis seperti kakaknya. Setiap hari Gusni berlatih di GOR bersama Pak Pelatih. Berangkat dari rumah dengan menggendong ransel besar dan Gusni berlari menuju GOR pun di sana Gusni hanya diminta Pak Pelatih untuk berlari mengelilingi gelanggang. Ia menurut saja. Gusni berlari sembari memegang raket nyamuk yang biasa ia gunakan waktu kecil untuk mematikan nyamuk yang menggigiti badannya. 

    Hari pertama sampai hari keempat puluh enam Gusni masih berlari mengelilingi gelanggang. Baru mulai hari keempat puluh tujuh Gusni diminta Pak Pelatih untuk latihan terima bola. Pak Pelatih orang yang sangat tegas. Gusni benar-benar digembleng kedisiplinannya agar latihan yang ia jalani ini tidak sia-sia. Hari kelima puluh lima, Gusni turun dari tribun dengan napas yang memburu cepat. Hari ini terlihat hanya ada satu “penerbangan” yang membawa kok ke tribun. Puluhan lebih sisanya berantakan di lapangan. 

    Lalu hari kesembilan puluh dua, hari besar untuk Gusni. Ia bertanding untuk pertama kalinya!
    Gusni melihat sekeliling, semua penonton memerhatikkannya. Gusni memegang raket dengan erat dan serve pertama ia lakukan. Kok hanya melayang pelan di atas net. Satu poin untuk Ria dan Gusni masih kosong. Kemudian gantian Ria serve dan dua kali kok masuk dengan sempurna ke area Gusni. Skor 3-0 untuk Ria-Gusni. Gusni mengembalikkan kok ke Ria dan out! Suara gemuruh di tribun, para penonton menyoraki jagoan masing-masing. Gusni! Ria! Gusni! Ria! Gusni melihat kok menuju ke arahnya. Ia maju selangkah dan berhasil mengangkat kok tipis di depan net, Ria berusaha menjangkaunya dan gagal! Yes! Gusni memekik dan disambut riuh suara pendukung Gusni. Papa pun tersenyum lega. Skor 1-4. Gusni bersiap serve kembali. Ia menatap Ria, dan terus menatapnya. Ia teringat sesuatu. Gusni mengayunkan tangannya ke belakang dan tick...Gusni serve meniru gaya Ria dan masuk! Ria tertipu lagi. Skor 6-4! YEAH!

    Blash! Ria! Ria! Ria! Out! Blash! Mantap Gusni! Ayo Ria! Ria! Yeah! Gusni! Gusni! Gusni! Yesss!! Skor 20-11. Blash! Ria! Gusni! Gusni! Ria! Match point! Gusni serve! Tick...pelan, dikembalikan oleh Ria. Masih bisa diangkat lagi oleh Gusni. Dan tiba-tiba SMASH dari Ria keras sekali. Tetapi, Gusni masih sigap mengembalikkannya dan SMASH lagi. Keras dan tajam. Masih juga bisa dikembalikkan oleh Gusni. Ria semakin emosional menatap tajam Gusni dan “ARRGGHH!” kok menukik tajam tepat di tengah-tengah net dan kok jatuh di area Ria. YEAH!! Gusni mengepalkan tangannya ke udara. Gusni sangat senang dan puas. Papa, Mama, dan  Kak Gita tersenyum bangga melihat Gusni hari ini menang.

    Begitu banyak perjalanan yang harus Gusni tempuh. Pertandingan demi pertandingan yang akan ia lewati seakan menjadi motivasi tersendiri untuk ia tetap bertahan melawan penyakitnya sekaligus meraih cita-citanya menjadi atlet bulutangkis nasional. Perempuan bertubuh gempal ini seakan tidak punya beban seperti burung terbang sesukanya. Ia pun sangat kuat dengan pendirian yang ia miliki walau pernah terjatuh dan masuk rumah sakit sewaktu bertanding. Namun, ia tetap menjadi Gusni yang hebat. Atlet bulutangkis kita! Gusni Annisa Puspita! Sampai akhirnya ia menjadi  Sang Juara dalam Khatulistiwa Terbuka untuk negara Indonesia. The National Team of The Republic of Indonesia!

    Itulah Gusni. Perempuan hebat yang melawan penyakitnya serta mampu meraih cita-citanya. Semua itu bermula dari mimpi. Mimpi masa kecil Gusni yang ingin menjadi atlet bulutangkis nasional. Berawal dari raket nyamuk yang ia bawa latihan setiap hari. Berawal dari setiap saat ia berlari. Berawal dari imajinasi dan kemudian menjadi nyata.

    Segala sesuatu diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi dan dalam dunia nyata. Dengan kerja keras, tinggalkan bukti di dunia nyata bahwa impian itu, ada. Bersama alam bawah sadar Gusni bermimpi, bersama alam sadar Gusni berjuang. Manusia layaknya percaya ia hidup karenanya, ia ada untuk percaya bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk dirinya. Bahwa dibalik keterbatasan dan ketidaksempurnaan hidup, setiap diri ini adalah kekuatan yang tidak pernah sedikit pun diremehkan oleh Sang Pencipta. Segala sesuatu diciptakan 2 kali.