Jurnalis Kampus itu Independen

    Author: Ghozali Saputra Genre: »
    Rating





    Apakah pernah terbersit dalam pikiran Anda, bahwa buletin atau majalah kampus yang Anda baca setiap hari itu, membutuhkan waktu serta perjuangan yang hebat untuk mendapatkan secarik informasi lalu dikemas menjadi berita yang enak dikonsumsi? Atau apakah Anda pernah berpikir, dalang dibalik semua berita hangat nan aktual yang Anda baca di kampus itu adalah mereka? 

    Ya, mereka! Para pemuda-pemudi yang kritis soal kejadian di kampus yang mampu mereka proyeksikan ke dalam bentuk tulisan yang cerdas. Mereka ibarat lidah yang mampu mengecap segala bentuk rasa seperti mereka mampu “mengecap” pahit-manisnya kehidupan para tokoh kampus. Mereka mengudara di seluruh penjuru kampus guna mengabarkan berita barang sekedar rambut berjatuhan di kala ospek berlangsung. Selepas-lepasnya mereka tentu tidak akan selepas burung gereja ketika pasung-pasung peraturan diberlakukan semena-mena. Mereka yang ibarat kata “maha tahu” tidak akan begitu saja mau menerima peraturan yang membatasi kerja dan karya mereka.

    Independent adalah kata yang paling tepat untuk mereka suarakan ketika belenggu peraturan itu membelenggu hak-hak mereka untuk bebas berkarya. Saya masih ingat ketika dosen Pengantar Psikologi saya berujar, “ pada abad KEDUAPULUH sekolah-sekolah itu harus merdeka dan ANAK-ANAK juga harus MERDEKA”. Saya setuju. Anak-anak saja harus merdeka pada abad keduapuluh, apalagi para pemuda-pemudi yang sudah dewasa seperti ini. Abad keduapuluhsatu lagi! Seharusnya mereka ini diberi kebebasan agar karya-karya mereka tak sebatas dalam lingkaran payah berupa belenggu peraturan. Bebas! Seperti burung terbang tak mengenal rambu-rambu lalu lintas.

    Namun, tetap dengan catatan bahwa ketika mereka diberi kebebasan tidak selayaknya mereka gunakan untuk hal-hal yang berbau negatif. Seperti mengangkat berita-berita bullshit atau tidak berdasarkan kenyataan/fakta. Itulah yang dinamakan fitnah. Fitnah dilarang keras dalam dunia media maupun dunia nyata. Apalagi mengadu domba. Seburuk-buruk manusia adalah pengadu domba. Itu semua saya kira ada di kitab masing-masing agama yang melarang berbuat perbuatan buruk seperti itu. 

    Jadi, mari kita bantu hancurkan segala bentuk belenggu yang memaksa mereka untuk berkarya secara cuma-cuma. Hapus lingkaran payah mereka dan terciptalah karya-karya indah berwujud nyata bak pelangi yang menghias langit di kala hujan telah terhenti. Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa Indonesia!
    Salam Pena!