Apakah pernah terbersit dalam
pikiran Anda, bahwa buletin atau majalah kampus yang Anda baca setiap hari itu,
membutuhkan waktu serta perjuangan yang hebat untuk mendapatkan secarik informasi lalu dikemas menjadi berita yang enak dikonsumsi?
Atau apakah Anda pernah berpikir, dalang dibalik semua berita hangat nan aktual
yang Anda baca di kampus itu adalah mereka?
Ya, mereka! Para pemuda-pemudi yang
kritis soal kejadian di kampus yang mampu mereka proyeksikan ke dalam bentuk
tulisan yang cerdas. Mereka ibarat lidah yang mampu mengecap segala bentuk rasa
seperti mereka mampu “mengecap” pahit-manisnya kehidupan para tokoh kampus. Mereka
mengudara di seluruh penjuru kampus guna mengabarkan berita barang sekedar rambut
berjatuhan di kala ospek berlangsung. Selepas-lepasnya mereka tentu tidak akan
selepas burung gereja ketika pasung-pasung peraturan diberlakukan semena-mena.
Mereka yang ibarat kata “maha tahu” tidak akan begitu saja mau menerima peraturan
yang membatasi kerja dan karya mereka.
Independent
adalah
kata yang paling tepat untuk mereka suarakan ketika belenggu peraturan itu membelenggu
hak-hak mereka untuk bebas berkarya. Saya masih ingat ketika dosen Pengantar
Psikologi saya berujar, “ pada abad KEDUAPULUH sekolah-sekolah itu harus
merdeka dan ANAK-ANAK juga harus MERDEKA”. Saya setuju. Anak-anak saja harus
merdeka pada abad keduapuluh, apalagi para pemuda-pemudi yang sudah dewasa
seperti ini. Abad keduapuluhsatu lagi! Seharusnya mereka ini diberi kebebasan
agar karya-karya mereka tak sebatas dalam lingkaran payah berupa belenggu
peraturan. Bebas! Seperti burung terbang tak mengenal rambu-rambu lalu lintas.
Namun, tetap dengan catatan bahwa
ketika mereka diberi kebebasan tidak selayaknya mereka gunakan untuk hal-hal
yang berbau negatif. Seperti mengangkat berita-berita bullshit atau tidak berdasarkan kenyataan/fakta. Itulah yang
dinamakan fitnah. Fitnah dilarang keras dalam dunia media maupun dunia nyata.
Apalagi mengadu domba. Seburuk-buruk manusia adalah pengadu domba. Itu semua saya
kira ada di kitab masing-masing agama yang melarang berbuat perbuatan buruk
seperti itu.
Jadi, mari kita bantu hancurkan
segala bentuk belenggu yang memaksa mereka untuk berkarya secara cuma-cuma.
Hapus lingkaran payah mereka dan terciptalah karya-karya indah berwujud nyata bak
pelangi yang menghias langit di kala hujan telah terhenti. Hidup Mahasiswa!
Hidup Mahasiswa Indonesia!
Salam Pena!






Posting Komentar